Yuk Simak Kisah Limbah Bambu Menjadi Sumber Penghasilan

Pohon Bambu

Pohon bambu merupakan tanaman yang tumbuh subur di tanah air tercinta. Jumlahnya yang cukup melimpah, membuat masyarakat memanfaatkannya untuk berbagai kerajinan. 

Ketika batang pohonnya telah diolah, ampasnya pun berserakan dan dibiarkan begitu saja. Melihat hal tersebut, membuat seorang warga untuk berinisiatif untuk menggunakan limbah bambu,menjadi kerajinan bernilai tinggi.

Menyulap Limbah Menjadi Kerajinan Unik
Sebagian masyarakat berpikir bahwa, limbah dari bambu maupun kayu tidak akan mampu dimanfaatkan lagi. 

Namun pemikiran tersebut kemudian dipatahkan, oleh sosok bernama Puji Wiyanto (63) yang tinggal di daerah Dusun Karangmukti, Rt 03/07, Desa Langensari, Kota Banjar. Beliau berinisiatif untuk memanfaatkan limbah dari bambu ataupun limbah kayu yang telah dibuang, dan disulap menjadi kerajinan tangan.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa, bagian tunggul pohon bambu dapat dimanfaatkan menjadi kerajinan tangan. Bagian tunggul tersebut, ternyata mampu disulapnya dengan mudah. 

Menurutnya, banyak sekali limbah dari pohon bambu yang dibiarkan begitu saja. Ketika sudah dibiarkan, maka limbah tersebut akan terbuang sia sia. Hanya beberapa limbah tersebut, yang akhirnya selamat dan berujung menjadi bahan bakar kendaraan. 

Awal Mula Ide Kreatif Muncul
Apabila masyarakat memiliki sedikit kreatifitas lebih, kemungkinan limbahkayu tidak akan terlantarkan begitu saja. Beri sentuhan sedikit saja, limbah bambu sudah berubah wujud di tangannya. 

Beliau termasuk pengrajin senior dengan hasil karya yang cukup banyak, karena beliau menjajaki bidang ini sejak tahun 19985 silam. Pada awalnya beliau hanya iseng semata, dan kemudian timbullah rasa ketertarikan untuk mendalaminya. 

Berawal dari keisengan tersebut, beliau melanjutkannya hingga berubah menjadi mata pencarian setiap harinya. Bahkan diakuinya, bahwa usaha ini terus berlanjut di tengah terpaan kecanggihan teknologi.Karya pertamanya, berbentuk miniatur pesawat jet tempur dansatu kapal pinisi. 

Hasil karyanya, hanya dibuat menggunakan jauh dari kata canggih. Karya tersebut, sekaan menjadi bukti akan kerja kerasnya selama ini. 

Berawal dari karya pertamanya, masyarakat sekitar menyukai hasil karyanya. Keahliannya tersebut,mampu mengundang ketertarikan masyarakat untuk membelinya. 

Melihat potensi dalam dirinya, membuatnya terus bertahan untuk berbisnis dalam bidang tersebut. Sekaan terlahir sebagai pengrajin, beliau hingga kini masih mendapatkan orderan. 

Diketahui dalam 3 bulan terakhir, pemesanan miniatur berbahan dasar limbah dari pohon bambu masih berdatangan. 

Dari Limbah Berubah Wujud Menjadi Karya Seni
Beliau menuturkan bahwa, dirinya tidak pernah belajar dari orang lain untuk memulai usaha tersebut. Dirinya hanya mempelajarinya secar otodidak, dan terjadi begitu saja. 

Keahliannya tersebut, memang murni dari keisengan belaka yang berujung ketertarikan. Kelenturan tangannya ketika membuat karya tersebut, terlihat indah seperti hasil karyanya. Tidak mengherankan jika, banyak masyarakat yang antusias melihat hasil karyanya.

Memanfaatkan tunggul pada limbah bambu ataupun dari limbah kayu, Pak Piji sudah mampu membuatnya menjadi aneka ragam kerajinan tangan. Punggul pada pohon bambu dipilih, karena memilki daya tahan yang tidak rapuh dimakan zaman. 

Banyak hasil karyanya, menyangkut alat pertempuran yang disukai oleh kalangan anak lelaki. Biasanya beliau akan membuat kerajinan berupa tank baja, jet temput, kapal pinisi, helikopter, dan masih banyak lagi jenisnya.

Harga yang Diberikan Untuk Satuan Karyanya
Beliau menjualkan hasil karyanya dengan harga yang cukup bervariatif. Semakin sulit tingkat pembuatannya, maka harga yang dibandrol dengan harga tinggi. Justru detail yang lengkap dengan hasil rancangan kuat, banyak dicari masyarakat. 

Karena hasil karyanya tersebut, disebut memiliki nilai seni tinggi, jika dibandingkan dengan tingkat kesulitan yang standar. Penjualannya sendiri masih dilakukan secara tradisional, namun hasilnya sudah mencukupi kebutuhan setiap harinya. 

Anda bisa mendapatkan sebuah kapal pinisi dari limbah bambu, hanya dengan menyiapkan dana sekitar Rp. 300 ribuan. Sedangkan untuk jet tempurnya, anda cukup menyiapkan uang dibawah Rp.300 ribu. 

Harga tersebut, sudah setara dengan tingkat kesulitan dan tingkat lamanya pengerjaannya. Nampaknya masyarakat juga tidak keberatan dengan harga tersebut, karena sudah jarang ditemukan pengrajin seperti ini. 

Terpaan teknologi canggih, nampaknya perlahan menggerus beberapa bisnis yang masih mempertahankan cara tradisional untuk membuat produknya. Salah satu bisnis yang mulai jarang terlihat, yaitu pengrajin dari bahan alami. 

Selain karena bahannya yang mulai sulit ditemukan, kerajinan tangan tersebut sudah mulai kurang diminati. Namun syukurnya, salah satu warga kota Banjar masih melestarikannya hingga kini.

No comments:

Powered by Blogger.